FIQIH AIR
Solusi Berbenah Pasca Banjir

Rabu, 17 Feb 2021 | 15:48:10 WIB - Oleh STAI Al Jami Banjarmasin


FIQIH AIR

PENDAHULUAN

Setelah kejadian banjir bandang di Hulu Sungai Tengah, melumpuhkan kota tersebut, dan air mengalir ke area hilir Kalimantan Selatan sampai ke Banjarmasin. Masyarakat Kalimantan Selatan memang hidup berdampingan dengan sungai. Sungai termasuk bagian terpenting dari masalah kehidupan masyarakat dalam lingkungan berair. Dengan kondisi geografis seperti ini, mau tidak mau, pemerintah dengan segala peraturannya harus menciptakan bagaimana mendorong masyarakat agar menjaga sumber-sumber air, termasuk sungai dan area yang menjadi daya dukung menjaga agar sungai tidak terkontaminasi. Agama Islam sebenarnya sudah memiliki konsep ramah lingkungan, agar masyarakat terhindar dari mudharat yang disebabkan penyelahgunaan ekploitasi lingkungan, sehingga sungai tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Menyoroti kejadian yang ada di daerah kita baru-baru ini, rasanya tidak salah kalau dikaji lagi pemahaman syariat terhadap lingkungan, terlebih menjaga agar air tidak terkontaminasi. Dan kajian kali ini lebih mengarah kepada fiqih air atau pemahaman fiqih yang berkaitan dengan air.

Untuk menjamin keberlangsungan kehidupan di alam semesta, air menempati posisi yang sangat penting. Baik dalam tinjauan normatif maupun ilmu fisika, air adalah salah satu sub sturktur inti dalam susunan semesta alam. Oleh karena itu, sumber- sumber ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadis Nabi serta hasil-hasil ijtihad ulama telah membahas tema air dalam berbagai perspektif.

Fiqih sebagai produk pikiran hukum Islam tidak lain kecuali sebagai hasil-hasil kreatifitas kerja intelektual ulama tentang ketentuan hukum prilaku setelah mereka mencermati sumber-sumber ajaran Islam. Fiqih dapat dihasilkan melalui berpikir deduksi (penalaran dari teks nash) dan atau melalui berpikir induksi (analisis terhadap fakta untuk kemudian ditetapkan hukum fiqihnya melalui teori fiqih).

Dalam fiqih Islam klasik, pembahasan tentang air pada umumnya hanya dalam perspektif alat bersuci. Air hanya dianggap sebagai instrument thaharah dari hadas dan najis. Dengan demikian, dalam kitab-kitab fiqih klasik itu, upaya-upaya perlindungan air baik secara konservasi dan restorasi belum terbahas secara memadai. Pembahasan tentang konservasi dan normalisasi air baru tampak pembahasannya dalam kitab-kitab fiqih kontemporer, dan mungkin beberapa bisa dipadankan dengan kondisi geografis masyarakat Kalimantan Selatan.

Dengan mempertimbangkan posisi dan fungsi air yang sangat penting dalam kehidupan, maka tulisan ini kiranya dapat memberikan sumbangan tentang konsep- konsep air dalam tinjauan fiqih Islam. Fiqih sebagai rumusan “kepastian hukum” yang terdiri dari perkara halal dan haram yang berdimensi logis dan religius kiranya dapat menjadi acuan prilaku setiap muslim, khususnya tentang tata hubungan manusia dengan air terlebih pasca terjadinya musibah.

lebih lengkapnya ,,,,,,

DISINI







Tuliskan Komentar